Sabtu, 07 Desember 2013

Bukan Kotak Pandora


“BUKAN KOTAK PANDORA”
(Sebuah Nama, Sebuah Noda, Sebuah Cerita)
Oleh: Saeful Ramadhan

*Cerita ini hanyalah fiksi belaka, bila ada persamaan nama atau karakter atau jalan cerita, percayalah bahwa hal itu memanglah yang dikehendaki oleh penulis J

Intro:
Cerita ini merupakan sebuah drama yang aku tulis atas dasar kebenaran dan kenyataan yang berhasil dilalui. Cerita ini tak lain hanyalah sebuah cerita lalu yang sekarang, di detik ini, di menit ini, di saat aku menarik nafas ini merupakan sebuah cerita yang bertopeng kenangan.
Cerita ini dimulai sore itu, yah….. suatu sore dimana aku mulai membuka sebuah kotak yang tergeletak, mendekam, berdebu, namun isi didalamnya tak pernah lekang oleh waktu, tak pernah lekang oleh keputusasaan, tak pernah lenyap dalam tiap butir kenangan. Kupegang ujung kotak berwarna hijau itu, lalu dengan sedikit ketidakyakinan kubuka penutupnya. Sesaat aku tersadar, ini lebih hebat daripada sebuah kotak pandora hasil cipta karya pimpinan para dewa dalam mitologi yunani, sebuah kotak yang diberikan Zeus kepada Andromeda, Alfrodit atau entah itu siapa. Ini merupakan sebuah kotak, sebuah kotak yang aku ciptakan sendiri yang tak pernah kuberniat memberikannya kepada orang lain.
Ujung kiri kotak mulai mengelupas saat kuangkat penutupnya. Masih dalam rasa ketidakyakinan kucoba hempaskan ujung lainnya. Dalam diam, dan tetap dalam diam kupandangi sesaat isi didalamnya. Beratus, beribu, berjuta, atau mungkin bermilyar lembar kertas terpampang membeku. Masih dalam diam kupandangi sesaat lagi, kurubah sorot mataku menjadi lebih redup lagi. Panas dan sakit kurasakan dalam retina, kornea dan kelopak mataku, sesaat hangat mulai mengunjunginya. Kusadari butiran air tertahan diantara kelopak-kelopak mata redup itu, namun tak kubiarkan butiranitu mengalir dan berjatuhan di wajahku.
Tak terasa jari-jemari tangan kananku mulai bergerak, menarik lembaran kertas teratas tanpa batinku mengizinkanya. Jemari itu terus bergerak seolah dia ingin mengetahui sesuatu. Kutahan, lalu sesaat kumulai berkecambuk dengan diriku sendiri, membiarkan diriku berperang melawan iblis-iblis yang menghasuti jemariku untuk melakukannya. Namun nampaknya mereka jauh lebih mengerti aku, iblis-iblis itu…… yah…. Iblis-iblis itu semakin mengendalikan jemariku.
Tak ada berontak, kusadari kuberperang melawan naluriku sendiri, sesuatu yang terus menuntunku sejauh ini, sesuatu yang dengan angkuhnya seolah berbisik bahwa dialah sosok dibalik butiran kenangan ini. Detik itu pula aku memasrahkan semuanya kepada mereka, sekali lagi kupasrahkan semuanya kepada iblis-iblis itu. Kuangkat perlahan jemari tanganku, kutatap dan kumaknai apa yang tersembunyi dibalik kertas-kertas itu. Hanya beberapa lembar kertas tak berisi, tak bermakna yang jemariku dapati. Seolah berontak, seolah marah, dan seolah samakin ingin mengetahui, jemari itu mulai bergerak melucuti kotak itu. Beberapa kertas berhasil kudapati dan berhasil kumaknai dengan naluriku. Sejauh ini, tak hanya mataku yang terbelalak, namun batinku mulai terhempas saat kertas-kertas itu mulai menampakan beberapa wajah manusia. Beberapa wajah yang sangat aku kenali, beberapa wajah yang sangat aku cintai dan kasihi, namun tetap ada sepotong wajah manusia yang tampak seperti “IBLIS” , iblis yang sama yang mengehendaki jemari tanganku melakukannya.
Kudapati wajah ayahku disana, dia menggerakan bibir dan tangannya. Gestur tubuhnya seolah dia ingin berkata “Anakku, Apa Kau Baik-baik Saja?”. Sesaat wajah itu menghilang perlahan dibarengi dengan ekspresi sedih dan kecewa. Aku terdiam, dan tanpa kusadari tubuhku bergetar hebat. Kutatap mataku sejenak agar sedari tadi butiran air yang berada dikelopak mata tak pernah terjatuh di wajahku. Kubelalakan mataku kembali dan kudapati wajah wanita terhebat dalam hidupku…. “Mamah”, dia tersinyum simpul, sangat tulus, penuh kasih, dan aku mendapatinya sedikit lucu. Sama halnya dengan wajah pertama, wajah inipun menunjukan gestur tubuh. Gestur yang seolah ingin berkata halus…. “Anakku, Kapan Engkau Kembali Ke Rumah…??,Kami Menantimu dan Akan Tetap Seperti Itu..”. Jasadku makin bergetar hebat, namun kutetap menahannya. Rona wajah itu berubah seiring dengan berlalu dan bergantinya wajah yang baru. Kudapati wajah yang “PECICILAN” diwajah yang selanjutnya. Kudapati wajah kakak perempuanku… tanpa gestur dia langsung berkata “Halo Jagoan, Apa Kabar?? Kapan Kau Akan Sehebat Diriku??”. Sejenak ku tahan mimik mukaku, lalu kucoba tersenyum kecil dibarengi sedikit rasa malu. Dia pun berlalu, lalu sesosok wajah acuh tak acuh datang menghampiriku dan dengan ekspresi dingin, dengan intonasi suara yang pelan nan teratur dia hanya berkata namun lebih kepada berbisik berucap“Kakak……”, yah… dia adiku, adik lelakiku. Aku tak tahu dan memang tak pernah tahu apa yang ada dalam dirinya selama ini, yang aku tahu aku menyayanginya dan dia kebanggaanku.
Aku tersenyum untuk pertama kalinya sesaat setelah membuka kotak itu, lalu ku mulai mengendalikan diri agar getaran hebat di jasadku tak menjadi-jadi. Kumulai menerawangi kembali kertas itu, berharap bayangan seseorang yang berharga tampak dibalik kekusamannya. Benar….. Benar….. Benar sekali..!!! Tepat sekali, aku tak menyangka kehadiran wajah yang satu ini. Kekasih pertamaku muncul, kekasihku yang hebat….. dan percayalah…. Dia yang paling hebat….. seperti biasanya dan seperti yang seharusnya, dia menatapku dengan tatapan mata itu dan menyapaku dengan alunan suara itu…… indah sekali saat bibirnya berkata “Sayang, Aku Percaya Kamu, Selalu Percaya Kamu..”. Percayalah bahwa aku semakin bersemangat untuk menatap kertas kusam itu dan berharap orang-orang teristimewa datang dan hadir memberi pesannya. Tak sempat lama kumerasakan kebahagiaan itu, tak sempat lama kumerasakan sensasi hebat itu….. datang kembali sesosok wajah manusia, sesosok wajah yang aku kenal. Sontak seketika ku marah dan kurobek kertas-kertas itu dan tanpa perasaan ragu kubanting robekan kertas itu. Sangat menyesal ku harus mengakui, kutelah didatangi rona wajahnya….. sesosok “IBLIS”, iblis yang sama yang menghasuti jemari dan naluriku.
Kutarik nafasku dalam, tak pernah sedalam ini sebelumnya……. Kucoba kembali menutup mata, masih untuk menahan butiran air tadi. Kurogoh kantong jaketku dan mengambil sebatang rokok hitam. Seakan menggodaku, rokok itu berkata “Nyalakanlah…. Hisaplah Aku, Percayalah Padaku….. Dan Kau Sendiri Tahu Aku Selalu Menemanimu Disaat Genting Seperti Ini…..”. Dengan penuh dendam ku ambil korek api di saku jaketku lainnya, kunyalakan, kuhisap dalam-dalam, kutahan beberapa saat….. sedikit mengadahkan kepala ke atas langit sembari kupejamkan mataku. Takan pernah kau rasakan dan kau ketahui apa yang kurasakan….. Nikmat sekali….. kuhembuskan asap dari arah paru-paru kiri dan paru-paru kananku…. Kucoba bentuk asapnya menjadi bentuk lingkaran dan sesekali ku mencoba membentuknya menjadi gambaran hati. Tenang sekali…………..

Reff:
“Yogyakarta, 23 Maret 2013” …….. tak sempat mataku menangkap untaian kata lainnya dari kertas yang kuambil selanjutnya, namun batinku berhasil dihempaskan kembali oleh para iblis itu, sekali lagi… dihempaskan kembali oleh iblis itu. Kertas itu, kertas itu merupakan halaman persembahan dari karya ilmiahku di bangku kuliah…. Kertas yang membawaku menjadi seperti ini… kertas yang membawa pesan-pesan perihnya kasih…… kertas itu tertuliskan nama-nama orang yang aku kasihi, teman, sahabat, dan kekasih…. Yah.. kekasih termasuk Si “IBLIS” itu…
Kata-demi kata kubaca, frasa yang sangat beraturan dipadukan dengan penuturan pemilihan bahasa yang sederhana menjadikannya sedikit agak lebih enak dilihat dari pada memaknainya. Entah berapa lama ku biarkan kotak itu terbuka, namun hujan rintik mengguyur yogyakarta…… dan itu sudah lebih dari cukup membuat suasana menjadi lebih buruk. Air hujan itu, air hujan itu turun dan meresonasi semua kenangan yang aku lalui. Air hujan itu, air mata langit itu tanpa terasa berhasil mengundang turunya air mataku…. Pipiku terasa hangat namun tetap tanpa berai terasa. Hanya setetes, tak kuusapnya…….. namun seolah mentertawaiku, ia berhasil berada di ujung daguku sesaat setelah ku baca nama dari Si “IBLIS” itu… Seketika kusadari dia yang aku tangisi… Si “IBLIS” itu……… bukan ayahku yang menjadi idolaku, bukan mamahku yang selalu mengasihiku, bukan kakak perempuanku yang menjadi panutanku, bukan adiku yang selama ini menjadi kebanggaanku, bukan pula kekasih pertamaku yang bertahun lamanya menanti dalam sesak, gelap, getir dan tanpa arah menunggu dan mencintaiku. Namun Si “IBLIS” itu…… sebuah “Ironi”…….
Aku mencintainya dan itu sebuah pengakuan yang hakiki dari naluriku. Dia, Si “IBLIS” itu bukanlah hal buruk pada awal mula kemunculannya. Dia bak malaikat atau peri bersayap dari negeri dongen dengan aku sebagai “PETERPAN”-nya….., aku tak meninggalkannya….. tak pernah mengacuhkannya…. Aku… “PETERPAN” yang mencintainya…..
Seketika di sore itu aku menjerit dalam diam….. berkonfrontasi dengan iblis-iblis itu dan meneriaki mereka…. “Hey Iblis, Apa Kau Tak Cukup Dengan Yang Aku Rasakan??” lalu Iblis hanya tersenyum manis… sangat manis… dan bahkan lebih manis dari siapapun…. Percayalah padaku, tak seperti yang tuhan kalian katakan… iblis sangatlah manis, mereka rupawan dan mengesankan… dan juga mereka hebat…. Selalu hebat…. Sampai pada mereka menghianati apa yang ada pada diri mereka sendiri… dan tak pernah mampu untuk mengakuinya, tanpa pernah menunjukan dihadapan sang ‘ADAM”. sama halnya dengan Si “IBLIS”-ku itu…. Sebuah penghianatan yang sempurna…
Masih di sore itu, hujan rintik masih bergulir dan berganti menjadi deras. Aku tersadar, ini merupakan sebuah keniscayaan…. Keniscayaan dimana jiwa-jiwaku diseret secara paksa oleh iblis manis nan rupawan itu, iblis manis yang sama yang sedari tadi, entah beberapa saat yang lalu berhasil memainkan jari-jemari tangan kananku itu.Kubentangkan kembali kertas itu, dan kuteliti dengan seksama…… hanya bertuliskan beberapa frasa,, Sungguh, hanya bertuliskan beberapa Frasa saja…… Kumerenung sejenak sesudahnya… kuhisap rokok di tangan kiriku…. Lalu ku tak tahu fikirku entah melayang ke galaxy mana……
Tak sadarkan dalam lamunan, api rokok menghunus jemari tangan kananku, tangan dimana iblis bersemayam dan mempengaruhiku, tangan dimana aliranya mengarah langsung kedalam jantungku. Sontak kuberteriak, dan iblislah yang kusumpah serapahi…… “Matilah Kau Iblis, Rasakan ….. Apa Kau Mampu Merasakannya??? Apa Kau Masih Punya Hati Untuk Merasakannya?? Apa Kau Masih Punya Cukup Nurani Untuk Memahaminya?? Panaskah Itu?? Perihkah Luka Bakarmu Itu?? Ketahuilah Kau Iblis, Itu Tak Sepanas Cinta Busuk Yang Kau Hunuskan Kedalam Jiwaku, dan Itu Tak Seperih daripada Bentuk Penghianatan-Penghianatanmu”. Ujarku berteriak perlahan memelankan suara lalu cenderung bergumam……
Aku bergumam, dan serentak aku tersadar bahwa dia yang kukatai iblis merupakan sosok yang pernah aku cintai… tak pernah ada dendam, tak pernah ada rasa sakit, selain dari bentuuk “CINTA YANG MEMBUSUK”. Sosok yang begitu menghianatiku, yang tanpa rasa bersalah, yang tanpa rasa ingin memperbaiki menjalin hal dengan “IBLIS” lainnya. Dialah IBLIS, yang tanpa cela selalu berhasil bersembunyi dibalik kerendahan hatinya, yang dibalik cinta kasih selalu berhasil menipu mangsanya….
“IBLIS” memang akan tetap menjadi “IBLIS” sekalipun dia menikahi “ADAM”…… dan hanya “IBLIS” yang berkata “Aku Mencintaimu dan Aku Akan Memperjuangkanmu”,“Namun Disaat Yang Bersamaan dia Menanti Belas Kasih Dan Cinta Dari Iblis Lainnya”. Hey Kau Iblis, Kau benar-benar layak menjadi “IBLIS”, sama halnya seperti pasangan “IBLISMU” sebelum aku….Dan kalian memang sama, seimbang, dan setakdir…. Menjadi Seorang Iblis yang begitu mahir dalam hal “MENGHIANATI”.
Dan sadarkah wahai engkau “IBLIS”, semua yang kau lakukan hanyalah “KENAIFAN” , memalukan saat aku, seorang manusia yang mencintai “IBLIS” yang harus mengatakannya. Aku lebih memilih untuk menyebutnya sebagai jalan, sebuah jalan hidup yang akan menuntunku menuju tirani yang lebih luas….. kebijaksanaan dari rasa sakit dan atau mungkin cinta kasih dari “PENGHIANATAN”. Sebuah jalan dimana:

“Cinta Selalu Tahu Kapan Waktunya Tuk Datang dan Kapan Waktunya Tuk Pergi (Oyoq, 21 Tahun dalam twitter.com)”.

Akh sudahlah, Sepertinnya ku harus banyak menyebut nama tuhanku agar terhindar dari iblis itu….. Namun, sekejap aku berhenti dalam niatanku…… berganti ku bersumpah, tidak atas nama tuhanku karena terkadang dia TULI, BUTA, dan yang terpenting kadang aku “TAK MEMPERCAYAINYA”, maka aku kan bersumpah atas nama orang-orang yang aku kasihi, orang-orang yang aku sayangi bahwa aku akan menjadi lebih baik, bijak , bertanggungjawab dan dewasa. Yap… dewasa…. Dewasa sebagaimana layaknya seorang lelaki dimana ia:

“Membiarkan Dengan Rela dan Tulus Iklas Melepas Kepergian Sang Iblis Yang Dicintainya Untuk Bersatu Bersama Iblis Lain Yang Dipilihnya (RizkyTm, 23 Tahun dalam Twitter.com)”.

Sudahlah, aku berhasil keluar dari jeratan “IBLIS” yang memaksaku untuk kembali ke masa lalu seperti yang biasa aku lakukan. Yah….. Kembali ke masa lalu memang sebuah kebiasaan dalam hidupku.

“Tak seperti menuju masa depan dimana kau memilih satu diantara milyaran jalan, untuk kembali ke masa lalu kau cukup melewati satu jalan dan memang hanya tersedia satu jalan. Satu jalan saja, jalan yang pernah kau lalui dan lewati untuk dapat berdiri tegak ditempatmu mengadahkan kepalamu sekarang. Pergilah melalui jalan itu, maknai dan hargai masa lalumu sebagaimana aku memaknai SI “IBLIS” di masa laluku, Cukupkan dan kembalilah lagi ke tempat kau mengadahkan kepalamu keatas sekarang dengan melalui jalan yang sama (MyQuote, Saeful Ramadhan 23 Tahun)”.

Tak terasa, sore hari berganti senja, sesaat lamunanku terinterupsi oleh seseorang yang yang menegurku… “Ada Apa Dengan Isi Kepalamu Anak Muda??” , ku tersenyum saat seorang sahabat menegurku. Dia tersipu dan cenderung tertawa hebat seolah menyadari perjalanan panjang yang aku lakukan tadi. Aku hanya terdiam, menatapnya dan melempar senyum kecil dengan dinginya. Senyum kecil dan senyum yang sama yang dulu sangat disukai oleh si “IBLIS”. Saat itu pula aku tak ingin berkonflik dengan siapapun, kucoba bereskan kertas-kertas tadi dan kututup kotak ajaib tadi. Kotak yang menjadi “MEDIA” menuju masa laluku.
Setidaknya, terhempasnya jiwaku ke masa lalu membuatku mendapatkan pelajaran.Hmmmmmhh….. maaf, Bukan maksudku tersenyum dan bergumam, tapi keputusanku meninggalkanya merupakan keputusan hebat nan tepat. Aku memang mencintainya, Tapi “IBLIS” bukanlah untuk manusia sepertiku…. Dan kebersamaanku dengan si “IBLIS” takan mampu merubah si “IBLIS” keluar dari “KEIBLISANYA”. Dia tetap akan menjadi “IBLIS” menyesatkan dan menghianati, memang sepeti itulah jalan yang ditakdirkan tuhan. Tetapi sekali lagi, aku mencintai “IBLIS”…. Sesak…….memang, dan aku mampu meninggalkanya dengan cara yang baik.

“Menatap matanya jauh kedalam nuraninya dengan tatapan kasih menggunakan mata redupku ini, sesaat kemudian memeluknya, mendekatkan bibirku ke telinganya dan membisikan kata-kata cinta, melepas pelukanya, meraih kedua tanganya, mencium kedua tanganya, mencium keningnya, memeluknya kembali dan lalu membiarkanya pergi bersama “IBLIS” pilihanya. Dan aku disini, selalu menyiapkan doa-doa terbaik demi kebahagiaan dan kelancaran hidup si iblis, sekalipun aku tahu bahwa “IBLIS” akan tetap menjadi “IBLIS” sekalipun dia menikahi “ADAM” (Cara terbaik meninggalkan dan cara terbaik tetap mencintai IBLIS, MyQuote, Saeful Ramadhan 23 tahun)”.

Hemmmmh…… yah itu caraku mencintainya, beberapa mungkin sependapat, beberapa mungkin tidak…. “Tetapi Aku Tak Mampu Tuk Memilih Siapa Yang Aku Cintai, Namun Ku Mampu Memilih Siapa Yang Layak Kupertahankan (Oktarioo, 23 Tahun dalam Twitter.com)”.
Hari semakin senja, tak semua kertas dalam kotak ku baca dan kumaknai…… kurapikan kotak itu, lalu kuberdiri…. Kumenatapnya sesaat dan terimakasih telah menjadi MEDIA ku untuk kembali kemasa lalu walu dengan “SEDIKIT PAKSAAN IBLIS”. Dan mungkin kotak itu takan ku buka lagi dalam kurun waktu yang lama, dan mungkin selama itu pula kotak itu menantiku untuk membukanya kembali….  J

Outro:
“Sebuah Nama Iblis Ku Kumandangkan , Sebuah Noda Iblis Kubuka Lalu Kuhapuskan, dan Sebuah Cerita Iblis KuKisahkan”

#SebuahNama,SebuahNoda,SebuahCerita






Daftar Kutipan

RizkyTm. 23 Tahun. 2013. Twitter.com (@RizkyTmx)
Yohannes Indarko “Oyoq” Setiawan. 21 Tahun. 2013. Twitter.com (@Oyoq17)
Oktariona “Oktarioo”. 23 Tahun. 2013. Twitter.com (@Oktarioo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri Komentar Berharga Anda Yah..!